Selasa,
09 Oktober 2012
Pagi ini aku tidak merasakan pertanda
apapun yang istimewa, biasa-biasa saja seperti pagi-pagi yang lain tetapi hari
ini aku lewati dengan luar biasa. Pertama, aku tidak tau dan tidak menyangka
kalau hari ini akan rapat kegiatan (lagi) untuk acara TBM (Taman Bacaan
Masyarakat), tiba-tiba saja dapat sms yang bunyinya “...hari ini rapat jam
11.00...” Rapat yang menindaklanjuti susunan acara pada rapat sebelumnya itu
sekaligus menagih iuran panitia demi kelangsungan acara nanti. Apesnya aku
tidak membawa uang cukup untuk membayar iuran tersebut. Aku memang tidak pernah
membawa uang banyak saat bekerja, hanya secukupnya saja. Tetapi hari ini
bener-bener tidak lebih dari cukup, hanya ada satu lembar uang lima ribuan dan
selembar uang seribuan di saku baju. Uang itu sebenarnya sisa gaji bulan
kemarin, sedangkan gaji bulan ini –yang baru cair hari senin kemarin- masih
mengeram di dalam lemariku, masih sayang untuk dibelanjakan sekalian menunggu
menetas biar berlipat, lumayan kan. Aku jarang menaruh uang di dalam dompet,
terlalu ribet buka tutup dompet kayak wong yes aja. Fungsi dompet hanya
sebagai tempat sampah yang isinya macem-macem, mulai dari kartu tanda pengenal,
kartu nama orang-orang gak penting, kartu berobat -kartu puskesmas, klinik
mata, dan beberapa RSUD di Surabaya- , bon-bon utang –cicilan spd- sampai kupon
undian belanja berhadiah hampir memenuhi dompetku, jadi kalau diisi uang
sedikit saja sudah kelihatan hamil apalagi isinya uang lembaran seribuan.
Awalnya aku berencana ngutang panitia dulu, besoklah pasti aku bayar
tetapi gak jadi karena ada temanku yang baik hati menalangi pembayaran
iuran itu dan aku pun setuju. Yes! Beres. Gak jadi ngutang panitia
tetapi tetap saja judulnya “ngutang” hanya beda krediturnya saja. Aku tidak
biasa berhutang, kalaupun terpaksa, harus secepatnya dibayar jika tidak,
bayangan debtcollector akan membuntutiku sampai ke alam mimpi dan itu pasti
akan menyiksa sekali.
Kedua, baru 30 menit sampai di TBM selesai
rapat jam 13.00 tadi dan sedang menikmati santapan terakhir bakso Pak Gondrong
–padahal bakulnya gak gondrong blas tetapi judul yang tertulis di rombongnya
memang begitu : P.Gondrong- depan TBM, tiba-tiba mbak Ning datang, panggilan
akrab mbak Nigtyas. Lumayan terkejut karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya
kalau akan berkunjung apalagi ini kunjungan perdana. Ternyata, dia baru saja
dari bank BRI dekat TBM lalu mampir, begitu katanya. Sebagai tuan rumah yang
baik, sudah sewajarnya memberikan servis terbaik apalagi saat kunjungan awal
agar si tamu tidak kapok kalau mau berkunjung lagi. Kebetulan aku pas makan
bakso jadi spontan aja aku tawari dia bakso, tanpa berpikir adakah uang untuk
menjamunya. Sejurus kemudian aku merasa galau, baru ingat kalau uangku sudah
habis buat bayar baksoku tadi empat ribu dan dua ribu untuk beli buah,
persediaan minuman pun hanya satu gelas air mineral dan itupun sudah aku minum
separo. Biasanya aku sedia air mineral gelasan buat jaga-jaga kalau ada tamu
seperti kordinatorku yang biasa monitoring tiap bulan, tapi stokku hari ini
habis, hanya tinggal satu gelas dimana setengahnya sudah membasahi
kerongkonganku. Aduh gawat, mau dikasih apa tamu yang satu ini? Sekilas aku
berpikir ngutang dulu lah ke abang bakso, toh sudah langganan, tiap hari
nongkrongnya pasti di depan TBM jd gampang mbayarnya. Untungnya mbak
Ning turun sendiri memesan baksonya dan sekalian langsung membayarnya. Aku kira
dia pesan es juga karena atmosfernya hari itu begitu panasnya tapi ternyata
tidak. Dia makan di TBM sambil aku ajak ngobrol ngalor ngidul. Aku lihat dia
mulai mendesis-desis kepedesan, tapi aku pura-pura tidak tau dan terus aku ajak
mengobrol. Mungkin dia menunggu suguhan minuman dariku. Aku mau turun ke bawah
pesan es jeruk tapi masih maju mundur, kalau aku turun dia pasti juga akan ikut
turun karena bakso yang ada didepannya tinggal mangkoknya saja tinggal
mengembalikannya dan kalau dia ikut turun pastinya bakal tau kalau aku ngutang
es buat dia. Sampai beberapa menit lamanya tak kunjung datang minuman yang
disuguhkan untuk dia, akhirnya mbak Ning pun pamit sambil membawa mangkok dan
desisannya. Aku benar-benar mengutuk diriku hari ini, sampai-sampai aku berpikir
lain kali kalau aku main ke TBM-nya, akan aku bawakan es sakgentong
kalau perlu sakbakul-bakule.
Pelajaran
berharga yang dapat kuambil dari dua kejadian ini adalah apa yang kita pikirkan
dan telah kita rencanakan tidak selamanya berjalan pada jalurnya, maka kita
harus selalu siap dengan jalur-jalur lainnya.
Ketiga, waktu menunjukkan pukul 14.37,
hachiuu..nada sms-ku berbunyi. Dari Jono? Tumben. “Pi, perpustakaanmu sebelah endi
(mana)?” mau apa dia tanya perpustakaanku segala, apa mau mampir? Huh, ini orang,
selalu muncul tanpa diduga, baru satu minggu aku terbebas dari dia, dari
bayangannya yang selalu bergentanyangan di alam sadar maupun bawah sadarku,
tapi sekarang…ah, pakek manggil nama kecilku lagi, awas kau! Tapi apa
benar dia mau kesini? Ada apa? Mau ngapain? Dengan siapa? Apa dia sendirian
atau dengan temannya? tumben. Serentetan pertanyaan itu bergelayut di kepalaku.
Aku tak langsung memberikan alamat tempat kerjaku kepadanya. Aku tanyakan apa
alasannya bertanya begitu, apakah mau mampir dan ternyata dia memang ingin
mampir. Aku masih ragu, haruskah aku mengijinkan dia mengunjungiku di TBM saat
jam kerja begini? Belum sampai kutemukan jawabannya, tanganku yang jail ini
langsung saja mengetik sebuah nama jalan. “Sent”, alamat pun terkirim dan 15 menit
kemudian, “Assalamualaikum…” tiba-tiba terdengar suara yang disusul sesosok
jangkung berjaket hitam dengan muka tirus dan tas ransel dipunggungnya. Hanya
dengan mendengar suaranya dan melihatnya dari sudut mataku saja tubuhku sedikit
merinding seperti kedatangan sesosok hantu. Tapi, itu hanya sesaat, sepersekian
detik saja dan aku segera bisa mengontrol diriku kembali dengan baik, bahkan
sangat baik menurutku ketika menyambutnya saat itu. “Waalaikumsalam…” jawabku
sambil melemparkan pandangan sekilas ke arahnya dan kembali pandanganku pada
buku pengunjung dan meneruskan mendikte Hanif, pengunjung TBM yang masih duduk
dibangku SD kelas satu. Alhamdulillah masih ada Hanif, pikirku dalam hati, yang
kemudian disusul beberapa anak lagi sehingga paling tidak, aku bisa menyelimurkan
(mengalihkan) pembicaraan yang tidak kuinginkan nantinya. Kubiarkan dia
berdiri sejenak, menungguiku selesai mendikte sambil mengamati Hanif. Setelah
aku menyuruh Hanif dan memilihkan buku bacaan yang cocok untuk dia, barulah
kupersilakan dia duduk. Kami pun duduk berhadapan.
Meskipun sempat speechless beberapa
menit pertama dan hanya saling melempar pandangan, akhirnya keluar juga preambule-ku
“dari mana”. Ketika asal kutebak saja dari THR (HI-Tech) kah, dia malah
menjawab mau ke THR cari laptop. Lalu, dia menceritakan sedikit tentang kondisi
laptopnya sekarang. Sambil membersihkan meja yang lumayan berantakan dengan
buku-buku berserakan di atas meja, selesai menginduk buku, tablet pun
aku singkirkan setelah tugasnya selesai menginput data, lalu kumasukkan alat
tulis yang berserakan ke dalam laci sambil sedikit berjongkok. Saat aku
memperhatikann dia berbicara, setengah mendongak kuangkat wajahku ke arahnya,
tiba-tiba aku melihat tulisan di jaketnya, tepat di dada sebelah kirinya terdapat
tiga huruf dan satu angka. Spontan mataku terbelalak kaget. “Kamu ikut program
itu (baca : tulisan di jaketnya)?” tanyaku langsung tanpa basa-basi. Program
itu adalah program pemerintah yang menempatkan pendidik di tempat yang kurang
beruntung akses pendidikannya. Sesingkat mungkin dia menjawabnya “Iya”.
Seketika itu dadaku terasa panas seperti terbakar. Timbul rasa cemburu dan
sedikit iri padanya. Pikiranku langsung pada sms yang dia kirimkan bulan
Agustus lalu yang memberitahukan bahwa ada pendaftaran untuk program itu. Dan
beberapa menit kemudian sms-nya mengatakan pendaftarannya sudah ditutup hari
itu juga. Tapi sekarang kenapa dia malah memakai jaket seperti itu?
Dia tau betul kalau aku sangat menginginkan
program semacam itu, meskipun hubungan komunikasi kami akhir-akhir ini tak
begitu baik, dia tetap berusaha memberitahuku meskipun terlambat. Entahlah,
haruskah aku berterimakasih padanya ataukah malah menghujatnya. Berterimakasih
karena sudah memberikan informasi itu meskipun terlambat. Menghujatnya karena
memberitahuku namun sudah tau pasti tidak ada peluang bagiku, yang artinya sama
dengan mengeceku (mengolok-olok). Herannya kenapa dia bisa ikut?
bukankah saat itu sudat ditutup pendaftarannya? jika dia bisa mendaftar kenapa
tak segera menghubungiku? Pertanyaan terakhir itu tiba-tiba membuat dadaku
perih, seperti dihujam ribuan belati. Perasaanku campur aduk tak karuan, sakit
dan kecewa. Ternyata dia membohongiku dengan kabar palsu itu. Usut punya usut,
ternyata dia pekerja keras juga. Dia tak percaya begitu saja warning pendaftaran
online di website program itu. Setelah dia berusaha mencoba masuk ternyata
berhasil dan akhirnya dialah yang terpilih.
Aku mulai tak memperhatikan dia berbicara.
Pikiranku ngalor-ngidul. Kenapa harus dia? Kenapa bukan aku? Aku yang
selam ini menginginkannya, memimpikannya, bukan dia, kenapa harus dia, Ya
Allah? Padahal selama ini dia selalu mencibirku jika aku membicarakan bagaimana
rasanya bergentayangan ke luar dari “negeriku” sendiri, bahkan dia pernah
memojokkanku. Aku masih ingat teleponnya 2 bulan yang lalu, beberapa hari
setelah pertemuan yang tanpa disengaja, saat sama-sama mengurus persyaratan
program yang sejenis dengan yang dia ikuti sekarang –tapi yang ini tujuannya ke
rumah upin-ipin- dan sama-sama gagalnya juga saat itu pada tahap administrasi.
Dia berkata “Anak perempuan itu lebih baik tinggal di rumah, mengurus orangtua
apalagi ibumu sedang sakit, siapa yang akan mengurusnya jika kamu tinggal
pergi? Apa sebenarnya yang kamu cari? Bla…bla..bla…” Kata-katanya yang halus,
tapi begitu menusuk membuat air mataku meleleh saat itu. Dulu ketika hubungan
kami masih baik-baik saja, dia juga pernah bilang “Buat apa kerja jauh-jauh,
cari yang dekat-dekat saja dulu baru kalo sudah punya pengalaman minimal 6
bulan, bisa dipertimbangkan kalau mau mencari yang jauh”. Dia yang dulu
sentimentil setiap membicarakan pekerjaan atau tinggal di tempat yang jauh dari
rumah, sedangkan aku yang selalu bersemangat dan menggebu-gebu, kini keadaan
berbicara lain. Dialah yang akan pergi, dia telah mendahuluiku, dia
selangkah…….bahkan berlangkah-langkah lebih maju dariku.
Sejenak aku menyalahkan keadaan, kenapa
harus memilih dia? kenapa bukan aku? “karena kamu tidak ikut mendaftar”,
tiba-tiba kata hatiku yang lain ikut berceloteh. Benar juga, aku juga tak bisa
menyalahkan dia, masih untung diberitahu, masih mau minta lebih. Dia sudah
berusaha memberitahu aku sebelumnya melalui sms-nya waktu itu meski pendaftaran
sudah expired katanya. Tapi, aku masih belum bisa menerima semua ini,
terlalu mengejutkan bagiku, hatiku sakit. Bahkan aku tidak sempat mengucapkan
selamat kepadanya, sampai sekarang. Aku sibuk menata hatiku yang kacau semenjak
pengakuannya atas program itu beberapa menit yang lalu. Ku alihkan perasaanku
dengan menata buku-buku yang sebenarnya sudah tertata rapi dan sesekali aku
keluar ke balkon melihat suasana jalan raya Kusuma Bangsa yang mulai ruwet,
seruwet hatiku saat ini. Dan untungnya, aku bisa, bersikap tenang dan
melayaninya sama seperti pengunjung TBM yang lain, meskipun sempat geregetan
sambil memukul meja kerja dengan gaya bercandaku. Entah, dia tau atau tidak
perasaanku yang kacau, aku tak peduli.
Setelah cukup mengendalikan diri, aku
menanyakan kapan berangkatnya. Dan lebih mengejutkan lagi, dia mengatakan
berangkat tanggal 13 Oktober. Itu berarti satu minggu lagi. Tidak. Tidak satu
minggu, karena sekarang tanggal 9, itu berarti hanya empat hari dari sekarang.
Aku mulai menghitung dalam hati sambil menampilkan ekspresi setenang mungkin.
Aku pikir masih satu bulan lagi. Kenapa begitu mendadak dan kenapa baru nongol
sekarang. Sekilas aku berpikir, mungkinkah kedatangannya ini untuk berpamitan
padaku? Namun dia menyangkalnya, meskipun aku sudah mendesaknya atau
jangan-jangan dia malu mengakuinya. Jika tidak untuk berpamitan, lalu apa arti
kedatangannya ini? Apa mungkin dia ingin pamer keberhasilannya ini padaku,
ingin melihatku menderita karena dia tau aku begitu menginginkan program itu
tetapi justru dia yang medapatkannya.
Kami ngobrol sembarang kaler tentang pekerjaanku sekarang,
pekerjaan dia dulu, dia juga sempat melihat-lihat isi tabletku. Aku pikir tidak
ada rahasia di dalamnya, jadi aku mengijinkannya untuk malakukan sidak pada
tabletku. Dia juga sempat meminta pertimbangan sebaiknya membeli tablet atau laptop.
Lebih baik laptop dari pada tablet. Tablet lebih banyak digunakan untuk
kepentingan hiburan meskipun bisa untuk mengetik tetapi hasil tidak seoptimal
laptop atau komputer. Masih mengutak-atik tablet, dia mengatakan di tempat dia
bertugas nanti kemungkinan tidak ada sinyal. Aku menimpalinya untuk berlatih
tanpa internet mulai dari sekarang. Dia pun membalasnya, sudah latihan 14
hari saat karantina kemarin sampa dia dimarahi ibunya karena tidak mengirimkan
kabar. Sebenarnya dia bisa telepon saat karantina tetapi berhubung peserta yang
mau telepon antri berjubel jadi males.
Sudah bosan dengan tabletku, akhirnya dia
meletakkannya di atas meja lalu berdiri, berkeliling ruang lalu mengambil kursi
yang tadi dia duduki didepanku, dipindahkannya dibelakangku agak ke utara
karena tempat dia duduk tadi begitu panas terkena pancaran sinar matahari sore.
Beberapa anak yang sedang bermain di tangga, naik turun dengan riangnya sambil
cengengesan. Beberapa peringatan tidak mempan, akhirnya aku langsung ambil
tindakan. “Mau di atas atau di bawah?” sambil aku cengkram lengan mereka yang
sedang berada diantara anak tangga. Berhubung hari sudah sore dan waktunya
mereka mengaji, akhirnya mereka memilih turun dan pulang. Kebiasaan yang buruk,
jika mereka sudah bosan membaca, mereka mulai bermain diantara anak tangga
sehingga aku sering mengusir paksa mereka untuk pulang saja dari pada nanti
jatuh, aku gak bisa menggantinya repot juga nanti urusannya. Sebenarnya kecewa
juga kalau anak-anak pulang, TBM jadi sepi, apalagi sekarang ada hantu
jadi-jadian bernama Jono lagi. Ih, serem. Kalau hanya berdua di TBM dengan si
hantu ini. Jadi agak canggung deh.. TBM-ku memang berada di lantai atas dan
anak-anak sering dan senang bermain diantara anak tangga, sampai suatu hari
pernah ada anak yang jatuh. Untungnya masih ada Dendi yang baru datang, anak
gendut kelas 5 SD yang dulu selalu menjadi pelanggan nomer satu datangnya di
TBM, tapi karena sekarang sekolahnya masuk pagi, jadi jarang ke TBM.
Tiba-tiba dia menanyakan apakah aku senang
bekerja disini. Sebenarnya, semua pekerjaan pasti ada susah dan senangnya
sendiri-sendiri. Senangnya bertugas disini jika sedang banyak anak, mengerjakan
PR atau tugas mereka bersama-sama, meskipun aku masih lebih senang mengajar
tetapi cukup menghiburku lah. Apalagi kalau pas mereka datang bersamaan, bisa
kalang kabut seperti anak ayam kehilangan induknya. Di sana-sini terdengar
teriakan “mbak-mbek” minta segera dilayani tetapi justru di situlah
letak kenikmatannya. Gak senangnya adalah jika sepi tak ada pengunjung, tetapi
gak terlalu gak senang juga sih…karena aku masih bisa membaca buku yang aku
sukai. Jadi, masih bisalah mengatasi ketidaksenangan itu. Dia juga menanyakan
apakah aku gak memberikan les kepada anak-anak TBM. Aku tidak memberikan les
kepada mereka melainkan sekedar mengerjakan PR saja dan membantu belajar mereka
secara gratis. Dia sempat menanyakan padaku keinginan untuk mengajar lagi.
Menyarankan untuk memasukkan lamaran sekarang siapa tau tahun depan ada
panggilan. Hhhhhh….pertanyaan yang susah di jawab. Dia pikir aku keluar dari SD
karena apa? Dan kenapa aku memilih pekerjaan ini (petugas TBM)? Aku hanya ingin
mengajar jika di luar Jawa.
Jam dinding TBM sudah menjukkan waktu pukul
15.50, saatnya beres-beres untuk pulang sekaligus terpaksa harus mengusirnya.
Dia menungguku selesai beres-beres tetapi aku menyuruhnya untuk turun duluan.
Dia menolaknya, tetap menungguku sampai aku benar-benar selesai. Tetapi aku
bersikeras menyuruhnya turun terlebih dahulu karena jika dilihat warga dari
luar tidaklah pantas kalau harus turun bersamaan dari atas apalagi ini pos
kamling yang tempatnya tidak terlalu luas. Akhirnya dia mau menerima alasanku
dan dia turun sendiri. Sesaat kemudian aku menyusulnya setelah selesai
membereskan meja kerja dan dia masih memakai sepatu di bawah. Kami pun berpisah
di parkiran setelah aku menyalakan mesin sepeda motorku.
Sesampainya di rumah, aku langsung
merebahkan diri di kamar. Mengendapkan semua yang terjadi hari ini. Aku masih
tak habis pikir, kenapa harus dia yang berangkat? kenapa bukan aku? tiap aku
mengingat hal itu dan tiap aku bertanya begitu hati kecilku selalu menjawab
"karena kamu g mendaftar", setidaknya jawaban itu bisa mengendalikan
luapan amarahku meskipun butiran air yang merembes di pipi tak dapat dikendalikan
hingga akhirnya aku ketiduran. Gawat, sudah pukul 17.00, aku belum mandi
apalagi sholat ashar. Aku langsung bergegas melepas seragam kerja lalu menuju
kamar mandi dan sholat ashar. Saat itu ibuku tau kalau aku belum shalat ashar,
langsung deh dapat siraman rohani sebelum shalat. Malamnya setelah shalat
isya', aku membuka CyrusPad-ku, bermaksud nge-game untuk
menghilangkan penat. Dan...celaka 2012, tanpa sengaja telunjukku menyentuh
riwayat aplikasi yang pernah dibuka oleh user. Dalam riwayat itu, aplikasi Kingsoft Office yang berisi catatan kisah masa lalu yang geje bersama Jono terlihat
begitu jelas. Adududu....mungkinkah dia membacanya? Setelah membukanya tadi
siang di TBM sebelum dia datang, aku memang sempat membuka catatan itu dan
tidak sempat menghapus riwayat aplikasi. Tadi aku lihat Jono juga membuka aplikasi Kingsoft Office. Tetapi sepertinya dia hanya membuka Buku Induk yang baru
selesai aku kerjakan tadi. Bahkan, aku yang menunjukkannya. Dan 75% yakin dia
tidak membacanya. Aku berusaha menenangkan diri. Astaghfirullah, hampir saja
mati berdiri. Perasaanku masih gak karuan, masih ada sedikit keraguan tentang
riwayat aplikasi itu. :(
Berusaha melupakan apa yang baru saja
terjadi, aku bergegas ke tempat tidur lebih awal dari biasanya. Namun, mata
sulit terpejam. Aku lihat disampingku, ibu sudah tertidur pulas. Alhamdulillah,
malam ini penyakitnya tidak kambuh. To be continuou...hwaaa, malah menangis
lagi, menangisi sesuatu yang geje. Rasanya ada sesuatu yang meluap-luap di
dada, gak tau apa itu. Entahlah, apakah benar-benar sakit hati karena tak bisa
ikut program itu, ataukah sebenarnya aku takut kehilangan dia yang akan pergi
jauh. Malam itu aku benar-benar menumpahkan perasaanku dengan tangisan yang
tertahan. Gak mungkin aq nangis gerho-gerho (sedikit jg sih) karena di
sampingku ibu sedang terbuai oleh mimpi indahnya. Baju dan bantalku rasanya tak
ada bagian yang kering untuk mengelap pipiku yang basah. Sampai larut malam
pun, aku masih belum bisa mengikhlaskan kenyataan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar