Rabu, November 14, 2012

Pengorbanan vs Pengabdian (Part I)


Selasa, 09 Oktober 2012
Pagi ini aku tidak merasakan pertanda apapun yang istimewa, biasa-biasa saja seperti pagi-pagi yang lain tetapi hari ini aku lewati dengan luar biasa. Pertama, aku tidak tau dan tidak menyangka kalau hari ini akan rapat kegiatan (lagi) untuk acara TBM (Taman Bacaan Masyarakat), tiba-tiba saja dapat sms yang bunyinya “...hari ini rapat jam 11.00...” Rapat yang menindaklanjuti susunan acara pada rapat sebelumnya itu sekaligus menagih iuran panitia demi kelangsungan acara nanti. Apesnya aku tidak membawa uang cukup untuk membayar iuran tersebut. Aku memang tidak pernah membawa uang banyak saat bekerja, hanya secukupnya saja. Tetapi hari ini bener-bener tidak lebih dari cukup, hanya ada satu lembar uang lima ribuan dan selembar uang seribuan di saku baju. Uang itu sebenarnya sisa gaji bulan kemarin, sedangkan gaji bulan ini –yang baru cair hari senin kemarin- masih mengeram di dalam lemariku, masih sayang untuk dibelanjakan sekalian menunggu menetas biar berlipat, lumayan kan. Aku jarang menaruh uang di dalam dompet, terlalu ribet buka tutup dompet kayak wong yes aja. Fungsi dompet hanya sebagai tempat sampah yang isinya macem-macem, mulai dari kartu tanda pengenal, kartu nama orang-orang gak penting, kartu berobat -kartu puskesmas, klinik mata, dan beberapa RSUD di Surabaya- , bon-bon utang –cicilan spd- sampai kupon undian belanja berhadiah hampir memenuhi dompetku, jadi kalau diisi uang sedikit saja sudah kelihatan hamil apalagi isinya uang lembaran seribuan. Awalnya aku berencana ngutang panitia dulu, besoklah pasti aku bayar tetapi gak jadi karena ada temanku yang baik hati menalangi pembayaran iuran itu dan aku pun setuju. Yes! Beres. Gak jadi ngutang panitia tetapi tetap saja judulnya “ngutang” hanya beda krediturnya saja. Aku tidak biasa berhutang, kalaupun terpaksa, harus secepatnya dibayar jika tidak, bayangan debtcollector akan membuntutiku sampai ke alam mimpi dan itu pasti akan menyiksa sekali.
Kedua, baru 30 menit sampai di TBM selesai rapat jam 13.00 tadi dan sedang menikmati santapan terakhir bakso Pak Gondrong –padahal bakulnya gak gondrong blas tetapi judul yang tertulis di rombongnya memang begitu : P.Gondrong- depan TBM, tiba-tiba mbak Ning datang, panggilan akrab mbak Nigtyas. Lumayan terkejut karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya kalau akan berkunjung apalagi ini kunjungan perdana. Ternyata, dia baru saja dari bank BRI dekat TBM lalu mampir, begitu katanya. Sebagai tuan rumah yang baik, sudah sewajarnya memberikan servis terbaik apalagi saat kunjungan awal agar si tamu tidak kapok kalau mau berkunjung lagi. Kebetulan aku pas makan bakso jadi spontan aja aku tawari dia bakso, tanpa berpikir adakah uang untuk menjamunya. Sejurus kemudian aku merasa galau, baru ingat kalau uangku sudah habis buat bayar baksoku tadi empat ribu dan dua ribu untuk beli buah, persediaan minuman pun hanya satu gelas air mineral dan itupun sudah aku minum separo. Biasanya aku sedia air mineral gelasan buat jaga-jaga kalau ada tamu seperti kordinatorku yang biasa monitoring tiap bulan, tapi stokku hari ini habis, hanya tinggal satu gelas dimana setengahnya sudah membasahi kerongkonganku. Aduh gawat, mau dikasih apa tamu yang satu ini? Sekilas aku berpikir ngutang dulu lah ke abang bakso, toh sudah langganan, tiap hari nongkrongnya pasti di depan TBM jd gampang mbayarnya. Untungnya mbak Ning turun sendiri memesan baksonya dan sekalian langsung membayarnya. Aku kira dia pesan es juga karena atmosfernya hari itu begitu panasnya tapi ternyata tidak. Dia makan di TBM sambil aku ajak ngobrol ngalor ngidul. Aku lihat dia mulai mendesis-desis kepedesan, tapi aku pura-pura tidak tau dan terus aku ajak mengobrol. Mungkin dia menunggu suguhan minuman dariku. Aku mau turun ke bawah pesan es jeruk tapi masih maju mundur, kalau aku turun dia pasti juga akan ikut turun karena bakso yang ada didepannya tinggal mangkoknya saja tinggal mengembalikannya dan kalau dia ikut turun pastinya bakal tau kalau aku ngutang es buat dia. Sampai beberapa menit lamanya tak kunjung datang minuman yang disuguhkan untuk dia, akhirnya mbak Ning pun pamit sambil membawa mangkok dan desisannya. Aku benar-benar mengutuk diriku hari ini, sampai-sampai aku berpikir lain kali kalau aku main ke TBM-nya, akan aku bawakan es sakgentong kalau perlu sakbakul-bakule.
Pelajaran berharga yang dapat kuambil dari dua kejadian ini adalah apa yang kita pikirkan dan telah kita rencanakan tidak selamanya berjalan pada jalurnya, maka kita harus selalu siap dengan jalur-jalur lainnya.
Ketiga, waktu menunjukkan pukul 14.37, hachiuu..nada sms-ku berbunyi. Dari Jono? Tumben. “Pi, perpustakaanmu sebelah endi (mana)?” mau apa dia tanya perpustakaanku segala, apa mau mampir? Huh, ini orang, selalu muncul tanpa diduga, baru satu minggu aku terbebas dari dia, dari bayangannya yang selalu bergentanyangan di alam sadar maupun bawah sadarku, tapi sekarang…ah, pakek manggil nama kecilku lagi, awas kau! Tapi apa benar dia mau kesini? Ada apa? Mau ngapain? Dengan siapa? Apa dia sendirian atau dengan temannya? tumben. Serentetan pertanyaan itu bergelayut di kepalaku. Aku tak langsung memberikan alamat tempat kerjaku kepadanya. Aku tanyakan apa alasannya bertanya begitu, apakah mau mampir dan ternyata dia memang ingin mampir. Aku masih ragu, haruskah aku mengijinkan dia mengunjungiku di TBM saat jam kerja begini? Belum sampai kutemukan jawabannya, tanganku yang jail ini langsung saja mengetik sebuah nama jalan. “Sent”, alamat pun terkirim dan 15 menit kemudian, “Assalamualaikum…” tiba-tiba terdengar suara yang disusul sesosok jangkung berjaket hitam dengan muka tirus dan tas ransel dipunggungnya. Hanya dengan mendengar suaranya dan melihatnya dari sudut mataku saja tubuhku sedikit merinding seperti kedatangan sesosok hantu. Tapi, itu hanya sesaat, sepersekian detik saja dan aku segera bisa mengontrol diriku kembali dengan baik, bahkan sangat baik menurutku ketika menyambutnya saat itu. “Waalaikumsalam…” jawabku sambil melemparkan pandangan sekilas ke arahnya dan kembali pandanganku pada buku pengunjung dan meneruskan mendikte Hanif, pengunjung TBM yang masih duduk dibangku SD kelas satu. Alhamdulillah masih ada Hanif, pikirku dalam hati, yang kemudian disusul beberapa anak lagi sehingga paling tidak, aku bisa menyelimurkan (mengalihkan) pembicaraan yang tidak kuinginkan nantinya. Kubiarkan dia berdiri sejenak, menungguiku selesai mendikte sambil mengamati Hanif. Setelah aku menyuruh Hanif dan memilihkan buku bacaan yang cocok untuk dia, barulah kupersilakan dia duduk. Kami pun duduk berhadapan.
Meskipun sempat speechless beberapa menit pertama dan hanya saling melempar pandangan, akhirnya keluar juga preambule-ku “dari mana”. Ketika asal kutebak saja dari THR (HI-Tech) kah, dia malah menjawab mau ke THR cari laptop. Lalu, dia menceritakan sedikit tentang kondisi laptopnya sekarang. Sambil membersihkan meja yang lumayan berantakan dengan buku-buku berserakan di atas meja, selesai menginduk buku, tablet pun aku singkirkan setelah tugasnya selesai menginput data, lalu kumasukkan alat tulis yang berserakan ke dalam laci sambil sedikit berjongkok. Saat aku memperhatikann dia berbicara, setengah mendongak kuangkat wajahku ke arahnya, tiba-tiba aku melihat tulisan di jaketnya, tepat di dada sebelah kirinya terdapat tiga huruf dan satu angka. Spontan mataku terbelalak kaget. “Kamu ikut program itu (baca : tulisan di jaketnya)?” tanyaku langsung tanpa basa-basi. Program itu adalah program pemerintah yang menempatkan pendidik di tempat yang kurang beruntung akses pendidikannya. Sesingkat mungkin dia menjawabnya “Iya”. Seketika itu dadaku terasa panas seperti terbakar. Timbul rasa cemburu dan sedikit iri padanya. Pikiranku langsung pada sms yang dia kirimkan bulan Agustus lalu yang memberitahukan bahwa ada pendaftaran untuk program itu. Dan beberapa menit kemudian sms-nya mengatakan pendaftarannya sudah ditutup hari itu juga. Tapi sekarang kenapa dia malah memakai jaket seperti itu?
Dia tau betul kalau aku sangat menginginkan program semacam itu, meskipun hubungan komunikasi kami akhir-akhir ini tak begitu baik, dia tetap berusaha memberitahuku meskipun terlambat. Entahlah, haruskah aku berterimakasih padanya ataukah malah menghujatnya. Berterimakasih karena sudah memberikan informasi itu meskipun terlambat. Menghujatnya karena memberitahuku namun sudah tau pasti tidak ada peluang bagiku, yang artinya sama dengan mengeceku (mengolok-olok). Herannya kenapa dia bisa ikut? bukankah saat itu sudat ditutup pendaftarannya? jika dia bisa mendaftar kenapa tak segera menghubungiku? Pertanyaan terakhir itu tiba-tiba membuat dadaku perih, seperti dihujam ribuan belati. Perasaanku campur aduk tak karuan, sakit dan kecewa. Ternyata dia membohongiku dengan kabar palsu itu. Usut punya usut, ternyata dia pekerja keras juga. Dia tak percaya begitu saja warning  pendaftaran online di website program itu. Setelah dia berusaha mencoba masuk ternyata berhasil dan akhirnya dialah yang terpilih.
Aku mulai tak memperhatikan dia berbicara. Pikiranku ngalor-ngidul. Kenapa harus dia? Kenapa bukan aku? Aku yang selam ini menginginkannya, memimpikannya, bukan dia, kenapa harus dia, Ya Allah? Padahal selama ini dia selalu mencibirku jika aku membicarakan bagaimana rasanya bergentayangan ke luar dari “negeriku” sendiri, bahkan dia pernah memojokkanku. Aku masih ingat teleponnya 2 bulan yang lalu, beberapa hari setelah pertemuan yang tanpa disengaja, saat sama-sama mengurus persyaratan program yang sejenis dengan yang dia ikuti sekarang –tapi yang ini tujuannya ke rumah upin-ipin- dan sama-sama gagalnya juga saat itu pada tahap administrasi. Dia berkata “Anak perempuan itu lebih baik tinggal di rumah, mengurus orangtua apalagi ibumu sedang sakit, siapa yang akan mengurusnya jika kamu tinggal pergi? Apa sebenarnya yang kamu cari? Bla…bla..bla…” Kata-katanya yang halus, tapi begitu menusuk membuat air mataku meleleh saat itu. Dulu ketika hubungan kami masih baik-baik saja, dia juga pernah bilang “Buat apa kerja jauh-jauh, cari yang dekat-dekat saja dulu baru kalo sudah punya pengalaman minimal 6 bulan, bisa dipertimbangkan kalau mau mencari yang jauh”. Dia yang dulu sentimentil setiap membicarakan pekerjaan atau tinggal di tempat yang jauh dari rumah, sedangkan aku yang selalu bersemangat dan menggebu-gebu, kini keadaan berbicara lain. Dialah yang akan pergi, dia telah mendahuluiku, dia selangkah…….bahkan berlangkah-langkah lebih maju dariku.
Sejenak aku menyalahkan keadaan, kenapa harus memilih dia? kenapa bukan aku? “karena kamu tidak ikut mendaftar”, tiba-tiba kata hatiku yang lain ikut berceloteh. Benar juga, aku juga tak bisa menyalahkan dia, masih untung diberitahu, masih mau minta lebih. Dia sudah berusaha memberitahu aku sebelumnya melalui sms-nya waktu itu meski pendaftaran sudah expired katanya. Tapi, aku masih belum bisa menerima semua ini, terlalu mengejutkan bagiku, hatiku sakit. Bahkan aku tidak sempat mengucapkan selamat kepadanya, sampai sekarang. Aku sibuk menata hatiku yang kacau semenjak pengakuannya atas program itu beberapa menit yang lalu. Ku alihkan perasaanku dengan menata buku-buku yang sebenarnya sudah tertata rapi dan sesekali aku keluar ke balkon melihat suasana jalan raya Kusuma Bangsa yang mulai ruwet, seruwet hatiku saat ini. Dan untungnya, aku bisa, bersikap tenang dan melayaninya sama seperti pengunjung TBM yang lain, meskipun sempat geregetan sambil memukul meja kerja dengan gaya bercandaku. Entah, dia tau atau tidak perasaanku yang kacau, aku tak peduli.
Setelah cukup mengendalikan diri, aku menanyakan kapan berangkatnya. Dan lebih mengejutkan lagi, dia mengatakan berangkat tanggal 13 Oktober. Itu berarti satu minggu lagi. Tidak. Tidak satu minggu, karena sekarang tanggal 9, itu berarti hanya empat hari dari sekarang. Aku mulai menghitung dalam hati sambil menampilkan ekspresi setenang mungkin. Aku pikir masih satu bulan lagi. Kenapa begitu mendadak dan kenapa baru nongol sekarang. Sekilas aku berpikir, mungkinkah kedatangannya ini untuk berpamitan padaku? Namun dia menyangkalnya, meskipun aku sudah mendesaknya atau jangan-jangan dia malu mengakuinya. Jika tidak untuk berpamitan, lalu apa arti kedatangannya ini? Apa mungkin dia ingin pamer keberhasilannya ini padaku, ingin melihatku menderita karena dia tau aku begitu menginginkan program itu tetapi justru dia yang medapatkannya.
          Kami ngobrol sembarang kaler  tentang pekerjaanku sekarang, pekerjaan dia dulu, dia juga sempat melihat-lihat isi tabletku. Aku pikir tidak ada rahasia di dalamnya, jadi aku mengijinkannya untuk malakukan sidak pada tabletku. Dia juga sempat meminta pertimbangan sebaiknya membeli tablet atau laptop. Lebih baik laptop dari pada tablet. Tablet lebih banyak digunakan untuk kepentingan hiburan meskipun bisa untuk mengetik tetapi hasil tidak seoptimal laptop atau komputer. Masih mengutak-atik tablet, dia mengatakan di tempat dia bertugas nanti kemungkinan tidak ada sinyal. Aku menimpalinya untuk berlatih tanpa internet mulai dari  sekarang. Dia pun membalasnya, sudah latihan 14 hari saat karantina kemarin sampa dia dimarahi ibunya karena tidak mengirimkan kabar. Sebenarnya dia bisa telepon saat karantina tetapi berhubung peserta yang mau telepon antri berjubel jadi males.
Sudah bosan dengan tabletku, akhirnya dia meletakkannya di atas meja lalu berdiri, berkeliling ruang lalu mengambil kursi yang tadi dia duduki didepanku, dipindahkannya dibelakangku agak ke utara karena tempat dia duduk tadi begitu panas terkena pancaran sinar matahari sore. Beberapa anak yang sedang bermain di tangga, naik turun dengan riangnya sambil cengengesan. Beberapa peringatan tidak mempan, akhirnya aku langsung ambil tindakan. “Mau di atas atau di bawah?” sambil aku cengkram lengan mereka yang sedang berada diantara anak tangga. Berhubung hari sudah sore dan waktunya mereka mengaji, akhirnya mereka memilih turun dan pulang. Kebiasaan yang buruk, jika mereka sudah bosan membaca, mereka mulai bermain diantara anak tangga sehingga aku sering mengusir paksa mereka untuk pulang saja dari pada nanti jatuh, aku gak bisa menggantinya repot juga nanti urusannya. Sebenarnya kecewa juga kalau anak-anak pulang, TBM jadi sepi, apalagi sekarang ada hantu jadi-jadian bernama Jono lagi. Ih, serem. Kalau hanya berdua di TBM dengan si hantu ini. Jadi agak canggung deh.. TBM-ku memang berada di lantai atas dan anak-anak sering dan senang bermain diantara anak tangga, sampai suatu hari pernah ada anak yang jatuh. Untungnya masih ada Dendi yang baru datang, anak gendut kelas 5 SD yang dulu selalu menjadi pelanggan nomer satu datangnya di TBM, tapi karena sekarang sekolahnya masuk pagi, jadi jarang ke TBM. 
Tiba-tiba dia menanyakan apakah aku senang bekerja disini. Sebenarnya, semua pekerjaan pasti ada susah dan senangnya sendiri-sendiri. Senangnya bertugas disini jika sedang banyak anak, mengerjakan PR atau tugas mereka bersama-sama, meskipun aku masih lebih senang mengajar tetapi cukup menghiburku lah. Apalagi kalau pas mereka datang bersamaan, bisa kalang kabut seperti anak ayam kehilangan induknya. Di sana-sini terdengar teriakan “mbak-mbek” minta segera dilayani tetapi justru di situlah letak kenikmatannya. Gak senangnya adalah jika sepi tak ada pengunjung, tetapi gak terlalu gak senang juga sih…karena aku masih bisa membaca buku yang aku sukai. Jadi, masih bisalah mengatasi ketidaksenangan itu. Dia juga menanyakan apakah aku gak memberikan les kepada anak-anak TBM. Aku tidak memberikan les kepada mereka melainkan sekedar mengerjakan PR saja dan membantu belajar mereka secara gratis. Dia sempat menanyakan padaku keinginan untuk mengajar lagi. Menyarankan untuk memasukkan lamaran sekarang siapa tau tahun depan ada panggilan. Hhhhhh….pertanyaan yang susah di jawab. Dia pikir aku keluar dari SD karena apa? Dan kenapa aku memilih pekerjaan ini (petugas TBM)? Aku hanya ingin mengajar jika di luar Jawa.
Jam dinding TBM sudah menjukkan waktu pukul 15.50, saatnya beres-beres untuk pulang sekaligus terpaksa harus mengusirnya. Dia menungguku selesai beres-beres tetapi aku menyuruhnya untuk turun duluan. Dia menolaknya, tetap menungguku sampai aku benar-benar selesai. Tetapi aku bersikeras menyuruhnya turun terlebih dahulu karena jika dilihat warga dari luar tidaklah pantas kalau harus turun bersamaan dari atas apalagi ini pos kamling yang tempatnya tidak terlalu luas. Akhirnya dia mau menerima alasanku dan dia turun sendiri. Sesaat kemudian aku menyusulnya setelah selesai membereskan meja kerja dan dia masih memakai sepatu di bawah. Kami pun berpisah di parkiran setelah aku menyalakan mesin sepeda motorku.
Sesampainya di rumah, aku langsung merebahkan diri di kamar. Mengendapkan semua yang terjadi hari ini. Aku masih tak habis pikir, kenapa harus dia yang berangkat? kenapa bukan aku? tiap aku mengingat hal itu dan tiap aku bertanya begitu hati kecilku selalu menjawab "karena kamu g mendaftar", setidaknya jawaban itu bisa mengendalikan luapan amarahku meskipun butiran air yang merembes di pipi tak dapat dikendalikan hingga akhirnya aku ketiduran. Gawat, sudah pukul 17.00, aku belum mandi apalagi sholat ashar. Aku langsung bergegas melepas seragam kerja lalu menuju kamar mandi dan sholat ashar. Saat itu ibuku tau kalau aku belum shalat ashar, langsung deh dapat siraman rohani sebelum shalat. Malamnya setelah shalat isya', aku membuka CyrusPad-ku, bermaksud nge-game untuk menghilangkan penat. Dan...celaka 2012, tanpa sengaja telunjukku menyentuh riwayat aplikasi yang pernah dibuka oleh user. Dalam riwayat itu, aplikasi Kingsoft Office yang berisi catatan kisah masa lalu yang geje bersama Jono terlihat begitu jelas. Adududu....mungkinkah dia membacanya? Setelah membukanya tadi siang di TBM sebelum dia datang, aku memang sempat membuka catatan itu dan tidak sempat menghapus riwayat aplikasi. Tadi aku lihat Jono juga membuka aplikasi Kingsoft Office. Tetapi sepertinya dia hanya membuka Buku Induk yang baru selesai aku kerjakan tadi. Bahkan, aku yang menunjukkannya. Dan 75% yakin dia tidak membacanya. Aku berusaha menenangkan diri. Astaghfirullah, hampir saja mati berdiri. Perasaanku masih gak karuan, masih ada sedikit keraguan tentang riwayat aplikasi itu. :(
Berusaha melupakan apa yang baru saja terjadi, aku bergegas ke tempat tidur lebih awal dari biasanya. Namun, mata sulit terpejam. Aku lihat disampingku, ibu sudah tertidur pulas. Alhamdulillah, malam ini penyakitnya tidak kambuh. To be continuou...hwaaa, malah menangis lagi, menangisi sesuatu yang geje. Rasanya ada sesuatu yang meluap-luap di dada, gak tau apa itu. Entahlah, apakah benar-benar sakit hati karena tak bisa ikut program itu, ataukah sebenarnya aku takut kehilangan dia yang akan pergi jauh. Malam itu aku benar-benar menumpahkan perasaanku dengan tangisan yang tertahan. Gak mungkin aq nangis gerho-gerho (sedikit jg sih) karena di sampingku ibu sedang terbuai oleh mimpi indahnya. Baju dan bantalku rasanya tak ada bagian yang kering untuk mengelap pipiku yang basah. Sampai larut malam pun, aku masih belum bisa mengikhlaskan kenyataan ini.