Sabtu, Desember 01, 2012

Pengorbanan Vs Pengabdian (Part II)

Rabu, 10 Oktober 2012
          Kokok “ayam ketawa” ku yang terkekek-kekek membangunkan mimpiku pagi ini. Mimpi yang selalu membuatku gelisah. Mimpi yang selalu datang saat aku teringat Jono atau hal-hal yang berkaitan dengannya saat aku beraktivitas. Samar-samar aku mendengar orang mengaji. Ah, ternyata sudah subuh, dengan berat kucoba membuka mata. Ku lihat jendela kamarku masih gelap, aku memutuskan merem lagi. Nanti dulu lah, masih sedikit lagi kantuknya. Pukul 05.00 pagi alarm hapeku berbunyi. Bergegas aku meraih hape dan aku pencet tombol Snooze lalu tidur lagi. Lima menit berlalu, sepuluh menit berlalu, alarm itu masih berbunyi setiap lima menit sekali. Sampai aku jengah, akhirnya kumatikan alarm yang berisik itu dan kuseret juga kakiku menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Meskipun sudah dibasuh dengan air, mataku masih susah untuk dibuka. Ternyata bukan karena sisa kantuk, tetapi karena mataku bengkak setelah menangis semalaman. Selesai sholat subuh aku kembali tidur, memanjakan mata yang masih enggan membukakan kelopaknya yang masih bengkak. Beberapa kali ibu membangunkanku, tapi suaranya terdengar samar-samar antara mimpi dan nyata hingga akhirnya ku lihat jam di hape pukul 06.57, mataku langsung mendelik dan langsung bangkit dari tempat tidur dengan sedikit sempoyongan aku berjalan menuju kamar mandi. Dan hari ini, aku berangkat terlambat 5 menit dari biasanya. Meskipun aku bekerja sendirian di tempat kerja, tidak ada bos atau rekan kerja yang mengawasiku, bukan berarti aku bisa datang sesuka hati. Bagiku sama saja, bekerja sendirian atau tidak, tetap ada yang mengawasi, pengawas yang setiap saat ada yaitu Allah, Tuhan Yang Maha Mengetahui Segalanya dan tentunya warga sekitar TBM.
Dalam perjalanan menuju TBM, batinku sibuk mencari alasan sebagai pembenaran atas keterlambatanku pagi ini. Semua gara-gara Jono. Kalau saja dia gak datang menemuiku dan kalau saja dia gak membawa kabar itu, aku gak akan menangis semalaman dan pastinya gak akan bangun kesiangan. Lah, kok malah menyalahkan orang lain. Sisi hatiku yang lain memprotes hingga terjadi perdebatan GeJe (Gak Jelas) yang kemudian membuat cairan hangat tiba-tiba meleleh dipipiku. Ya Allah, ini mata terbuat dari apa sih? Kok dikit-dikit mewek, gembeng amat. Tiap mengingat Jono dan kabar yang dibawanya kemarin, cairan itu tak pernah bisa ku bendung. Sampai di depan TBM aku pura-pura mengucek mata seolah sedang kelilipan debu dan untungnya hari ini tidak ada anak-anak yang menungguku di depan TBM seperti biasanya. Alhamdulillah, setidaknya aku bisa menenangkan diri dulu sebelum melayani mereka. Tapi itu tak berlangsung lama, mereka berbondong-bondong datang lima menit kemudian sambil menenteng buku PR dan alat tulis. Untung hari ini mereka ada PR, setidaknya aku bisa melupakan sejenak kekacauanku hari ini. Sinta, Dhinda, dan Riska selalu rajin ke TBM tiap pagi dengan membawa PR mereka, sekalipun mereka hanya sekedar main atau membaca buku sampai waktu berangkat ke sekolah tiba yaitu pukul 12.15, tapi biasanya pukul 11.00 aku sudah “mengusir” mereka pulang untuk segera mandi, mengingatkan untuk menata buku sesuai jadwal pelajaran dan berangkat ke sekolah. Meskipun kadang mereka “bandel” jika disuruh pulang lebih pagi, tetapi mereka lumayan nurut juga. Setengah hari ini, waktu sebelum ishoma (istirahat, sholat, makan) lumayan membuatku “aktif” dengan kedatangan anak-anak yang cukup ramai sampai waktu ishoma selesai. Memang di tahun pelajaran 2012-2013 ini, TBM rame pada jam-jam sebelum ishoma, tidak seperti tahun sebelumnya yang kebalikannya. Kebanyakan pengunjung TBM adalah pelajar SD.
Saat adzan berkumandang, aku segera menuju masjid yang agak jauh dari TBM, yaitu di masjid THR belakang. Disana, mataku hampir selalu basah, ada cairan yang menggantung di atas kantung mata. Padahal aku masih di tempat wudhu dan mendengarkan suara adzan. Batinku seperti terusik, gelisah, tak sabar rasanya ingin cepat-cepat mengadu pada Sang Khalik. Dan saat membaca Surat Al-Fathihah pada rakaat kedua, kantung mata ini tak mampu lagi menahan bebannya. Bulir-bulir air kini jatuh membasahi mukena. Namun, kucoba menahannya hingga salam terakhir. Ya Allah, berikanlah kelapangan hati pada hambamu yang lemah ini, berikan keikhlasan hati atas segala sesuatu yang menimpa diri, angkatlah sifat tamak dan iri yang menyiksa ini. Berikan ketentraman dan ketanangan batin agar hamba dapat melewati hari ini, mampu bekerja dengan baik.
Setelah waktu ishoma habis, aku pun kembali seperti biasa, duduk di kursi lipat di belakang meja kerja, berpikir sejenak apa yang hendak kulakukan selanjutnya. TBM sepi. Kembali melamun. Kembali mengingat kedatangan Jono dan kembali meleleh mata ini. sebelum “banjir bandang”, aku pun bergegas membuka CyrusPad-ku, mencoba bermain apapun yang dapat menghibur diri. Baru beberapa langkah permainan, aku sudah merasa bosan, sudah gak mood meneruskan permainan. Akhirnya aku tutup semua aplikasi, mata masih basah. Kubiarkan leather case-nya terbuka. Kulanjutkan lamunanku, pikiranku menerawang jauh. Berandai-andai aku bisa berangkat untuk program yang diikuti Jono, mungkin aku gak akan sebegini menderitanya. Kenapa harus dia yang berangkat? Kenapa bukan aku? Pertanyaan itu masih saja gentayangan di kepalaku. Sudah tak tahan rasanya, aku tumpahkan saja tangisku yang semalam sempat tertahan, selagi tak ada orang di sini. Sesenggukan tak karuan, tiba-tiba aku melihat bayangan wajahku di depan tablet yang terbuka tadi. Ya ampun, jeleknya! Tangisku makin menjadi manakala menyadari diriku ada di dalam tablet, dengan raut mewek aku berusaha menampilkan wajah terbaikku sambil menggerutu sendiri tak jelas. Aku pun senyum-senyum sendiri melihat kebodohan ini. Astaghfirullahhaladzim, aku tak boleh begini, aku harus move on.
Pikiranku masih menampilkan slide demi slide kedatangan Jono kemarin. Seketika itu aku ingat samar-samar tentang keinginannya mencari sumbangan buku ke sekolah-sekolah untuk dibawa di tempat barunya nanti. Meskipun kemarin aku hanya mendengarkannya sambil lalu dan tak begitu menghiraukan keinginannya yang “gila” itu. Aku sebut gila karena waktu keberangkatannya yang hanya tinggal 3 hari saja. Aku mulai ragu, apa memang tidak bisa mengusahakan buku-buku itu? Walaupun mepet, tapi kan masih ada 3 hari untuk mengusahakannya. Tiba-tiba ada dorongan yang lumayan kuat dari kedalaman dasar hatiku untuk membantunya. Aku mulai bangkit, menghapus sisa air mata yang gak penting ini. Ya, gak ada kompromi lagi. Aku akan membantunya. Aku bisa mengumpulkan buku sampai waktu keberangkatannya tiba. Tapi bagaimana caranya? Otakku langsung meresponnya dengan cepat. Berusaha keras berfikir bagaimana mendapatkan sumbangan buku dengan mudah dalam waktu yang sangat dekat. Ide mencari sumbangan ke perusahaan langsung aku coret dari daftar karena memang tidak mungkin dilakukan dalam waktu singkat. Bingung, tidak ada ide satupun yang muncul. Akhirnya aku teringat pakar TBM dari jogja, Pak Muhsin Khalida, yang bulan lalu “mampir” ke kantor untuk  memberikan workshop kepada kami petugas TBM tentang networking and fundrising untuk TBM. Aku akan meminta saran kepada beliau, bagaimana sebaiknya. Untung waktu itu aku mencatat nomer hapenya. Langsung saja aku kirim sms, aku ceritakan keinginan Jono tersebut. Semoga beliau bisa membantu membukakan jalan pikiranku yang buntu ini.
Mulai sekitar pukul 14.00 sampai tutup jam operasional TBM pukul 16.00 tak kunjung ada balasan dari Mr.Pakar TBM. Aku mulai resah, bagaimana ini? apa selanjutnya yang bisa aku lakukan? Aku terus berfikir sambil menuju tempat parkir. Pikiranku blank, bingung mau menuju kemana. Aku tak berniat langsung pulang ke rumah tapi juga tak punya pandangan akan pergi kemana selain rumah. Tanpa dikomando, tanganku mengarahkan setir ke arah berlawanan pulang, menuju arah THR dan ternyata berbelok ke TBM-nya mbak Rahma. “Petugas tidak masuk 3 hari mulai tgl 8-10 Oktober 2012 karena mengikuti pelatihan fotografi dan akan buka lagi hari Kamis, 11 Oktober 2012.” Begitu bunyi tulisan yang tertempel di pintu TBM. Yah, ternyata mbak Rahmah gak masuk. Mulai lemas, linglung, hati juga kemrungsung. Sudah menthok aku berpikir, meskipun tau hal itu tak akan mungkin, aku tetap berencana mencari bantuan ke perusahaan. Aku telepon Mas Rizki untuk menanyakan apakah dia punya contoh proposal bantuan ke perusahaan tapi sampai lama tak kunjung diangkat. Kira-kira selain perusahaan, mana lagi ya yang potensi memberikan buku? Kantor. Ya, tempat itu melintas begitu saja di kepala. Segera aku hubungi koordinatorku, aku tanyakan adakah buku nganggur yang tidak terpakai di kantor? Karena aku pernah melihat ada tumpukan buku yang dibiarkan “parkir” di tempat parkir motor sementara. Aku pikir waktu itu, buku-buku tersebut sudah tidak dilayankan lagi, jadi aku bermaksud memungutnya beberapa, eh tiba-tiba ada yang menegur. Akhirnya koordinatorku pun berkata “tidak ada”. Dan aku baru sadar, betapa tololnya diriku, tanya kok sama koordinator, ya jelas gak tau, jadi jawaban simpelnya ya “tidak ada” tadi. Tugas koordinator memang bukan mengurusi pengadaan buku di kantor melainkan mengurusi kedisiplinan petugas selama bekerja di lapangan. Pengadaan buku di kantor biasanya diurusi oleh Bu Sari, tetapi aku tak tahu nomer hape-nya.
          Ragu-ragu, antara lupa dan ingat sepertinya aku kenal motor yang diparkir di depan TBM mbak Rahma dan map kuning yang “menempel” di motor itu. Aku sms dia, bahwa aku sekarang ada di depan TBM-nya. “Ya Neng, 15 menit lagi aku balik. Aku masih di fotokopi Xerox dekat sate kelapa Ondomohen” Oalah mbak... Yasudah, Aku putuskan untuk menyusulnya kesana, daripada menunggu di TBM kayak orang hilang. Sesampainya di tempat fotokopi, aku utarakan maksud kedatanganku mencarinya. Mbak Rahmah mengatakan tidak bisa Fa, terlalu mepet waktunya. Tidak bisa kalau sekarang. Kalau pun mau bantu, paling tidak satu bulan lagi untuk mengumpulkan sumbangan buku. Lalu, buku dikirimkan lewat pos saja. “Kita yang nyari buku, temanmu yang membiayai pengirimannya. Berhubung tempat tujuannya tergolong daerah tertinggal, jadi harus tau dulu sikon (situasi-kondisi) disana. Nanti juga kita usahakan ngomong ke teman-teman TBM, mungkin nanti akan ada agenda khusus untuk mencarikan sumbangan buku buat temanmu itu”, begitu katanya. Aku manthuk-manthuk saja mendengarkan advise-nya. Betapa sulitnya mendapatkan buku dalam waktu sesingkat ini. Begitu sadar aku tak bisa mengandalkan mbak Rahma lagi, aku bergegas pamit meninggalkan dia yang sibuk dengan fotokopi laporan kegiatan lansia di balai RW TBM-nya.
Di jalan, menuju perjalanan pulang, otakku masih terus mencari cara bagaimana mendapatkan buku banyak dalam waktu yang sangat singkat. Pak Muhsin sudah, koordinator juga sudah, mau menghubungi Bu Sari tapi gak punya nomer hape. Lalu siapa lagi orang-orang penting yang bisa aku kontak lagi? Saat berhenti di lampu merah, terbesit nama Ibu Trini. Ya, ibu yang satu ini adalah ketua YPPI (Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia) yang kebetulan kantornya bermarkas di Surabaya. Tapi aku gak punya contact-nya, bagaimana bisa aku menghubunginya? Tidak masalah, aku akan mencarinya di website YPPI. Aku juga sudah menjadi friend FB (Facebook)-nya. Jadi tidaklah susah menghubunginya nanti. Terima kasih Allah, sudah membukakan pikiranku. Setidaknya ada secercah harapan untuk mendapatkan sumbangan buku. Lampu hijau menyala, yang sama menyalanya dengan hatiku saat ini. Dengan semangat 2012, aku tancap gas menuju rumah tercinta.
          Seusai sholat maghrib, aku siap di depan laptop. Modem aku siapkan, aku cek pulsa, untung masih cukup untuk daftar paket harian unlimited. Sudah terdaftar dalam paket unlimited, segera aku buka Mozilla Firefox. Aku ketikkan nama YPPI dan Ibu Trini, meminta bantuan “mbah google” menelusurinya dan membuka new tab untuk login FB-ku. Langsung aku tulis pesan untuk Bu Trini, isinya hampir sama dengan yang sudah aku kirimkan ke Pak Muhsin. Intinya dalam pesan itu, aku ceritakan bahwa aku punya teman yang akan mengajar di daerah tertinggal dan dia punya ide untuk menggalang sumbangan buku, namun ide itu muncul 1 minggu sebelum keberangkatannya. Aku juga meminta saran bagaimana caranya mendapatkan buku dalam waktu singkat tanpa harus melalui birokrasi yang selalu makan banyak waktu. Aku juga sempat menanyakan adakah buku “nganggur” di YPPI seperti yang aku tanyakan pada koordinatorku tadi. Aku tau resiko berkirim pesan lewat FB, jika beruntung maka akan segera mendapat balasan tetapi jika tidak, maka balasan itu bisa aku dapatkan satu minggu bahkan satu bulan yang akan datang apalagi untuk orang setaraf Bu Trini dengan “jam terbang” tinggi. Sambil H2C (harap-harap cemas), aku buka tab sebelah tab FB yang sudah menampilkan profil YPPI. Aku cari contact yang bisa dihubungi. Ada nomor kantor dan nomer hape. Kalau mau telepon kantor sekarang gak mungkin, karena bukan jam kerja. Aku lihat nomer hapenya, ternyata tidak se-provider dengan punyaku. Aku cek pulsa regularku ternyata tidak mencukupi. Akhirnya aku putuskan kirim sms saja, isinya hampir sama dengan yang aku kirimkan di pesan FB. Aku pikir nomer hape itu milik pribadi Bu Trini (belakangan aku tau, ternyata itu nomer fax YPPI. hihihi) tetapi aku salah.
          Bingung, selanjutnya mau melakukan apalagi? Semua usahaku hari ini ngambang. Sambil menunggu balasan, aku istirahatkan otakku dan membaca status teman-teman di wall FB-ku. Aku baru ingat, belum konfirmasi Jono tentang niatnya membawa buku ke tempat barunya nanti. Jangan-jangan, aku jungkir balik disini, dia malah gak mendukungku alias mengurungkan niatnya membawa buku karena waktu yang tidak memungkinkan. Segera aku sms dia, aku tanyakan apakah beneran dia mau membawa buku ke Pulau Wetar. Aku menawarkan diri untuk mencarikan hibah buku ke YPPI, aku jelaskan singkat apa itu YPPI. Aku juga menanyakan apakah dia bisa ke Surabaya besok. Jono bukan orang Surabaya, tetapi asli Kediri. Balasan sms-nya mengatakan bahwa dia tadi sendirian ke sekolah-sekolah, tetapi hasilnya nihil, terlalu mepet. Selain itu, dia datang atas perorangan tanpa surat dan proposal pula. Alhamdulillah, aku lega, setidaknya aku tidak jumpalitan sendiri. Ada seseorang yang juga sedang berjuang untuk mendapatkan sumbangan buku meskipun cara yang kami tempuh berbeda.